Siapa kita; kau dan aku
Sebuah jarak, dimana angka tak mampu membilangnya.
Sebuah waktu, dimana umur tak mampu menghitungnya.
Sebuah kata, dimana huruf tak mampu membacanya.
Sebuah kalimat, dimana tanda baca tak mampu menetapkannya.
Sebuah udara, dimana nafas tak mampu menghirupnya.
Sebuah doa, dimana mulut tak mampu merapalnya.
Sebuah jalan, dimana langkah tak mampu mencapainya.
Sebuah tebing, dimana tangan tak mampu menggapainya.
Sebuah lagu, dimana telinga tak mampu mendengarnya.
Sebuah, sebuah, sebuah. Sampai akhirnya kita kembali menjadi dua buah yang menyatu--sebuah.
Selasa, 09 April 2019
Rabu, 22 Agustus 2018
Saat semuanya terlihat sama
Disini aku termenung meratap sunyi. Denganmu bersama kerabat yang kau anggap seperti saudara se-ibu, dan mereka sekalian yang kau jadikan saudara dari keluarga besarmu.
Tiang dari fiber ini menjadi teman cerita punggungku selama setengah jam lamanya. Terpuruk, tenggalam dalam keramaian kepala yang tak kelihatan tubuhnya.
Semuanya terlihat sama dari masing-masing kelompoknya, tak ada yang bergerak, tak sedikit pun beranjak, tak henti-hentinya berteriak, rasanya aku ingin mengeluarkan riak.
Cuiihh.
22 Juli 201
Tiang dari fiber ini menjadi teman cerita punggungku selama setengah jam lamanya. Terpuruk, tenggalam dalam keramaian kepala yang tak kelihatan tubuhnya.
Semuanya terlihat sama dari masing-masing kelompoknya, tak ada yang bergerak, tak sedikit pun beranjak, tak henti-hentinya berteriak, rasanya aku ingin mengeluarkan riak.
Cuiihh.
22 Juli 201
Teruntuk kau, puan ku
Teruntuk kau, puan ku.
Kau tahu mengapa sengajaku terjang hujan? Sebab, aku suka hujan jatuh ke tanah daripada hujan dimatamu.
Bukan bermaksud membuat kau tersenyum. Bukan juga kagum. Tapi, hanya kau dan aku yang dapat merangkum. Membuat perasaan ini menguntum.
Jika hujan turun ke tanah, jangan beri tahu aku. Aku sudah tahu. Jika hujan jatuh dimatamu. Cepat beritahu aku. Bukan untuk ku habisi orang yang menciptakannya. Melainkan akan ku buat riang orang itu, agar ia tahu betapa berharganya sebuah senyum yang timbul dari hati.
Hujan diawal Agustus malam
Kau tahu mengapa sengajaku terjang hujan? Sebab, aku suka hujan jatuh ke tanah daripada hujan dimatamu.
Bukan bermaksud membuat kau tersenyum. Bukan juga kagum. Tapi, hanya kau dan aku yang dapat merangkum. Membuat perasaan ini menguntum.
Jika hujan turun ke tanah, jangan beri tahu aku. Aku sudah tahu. Jika hujan jatuh dimatamu. Cepat beritahu aku. Bukan untuk ku habisi orang yang menciptakannya. Melainkan akan ku buat riang orang itu, agar ia tahu betapa berharganya sebuah senyum yang timbul dari hati.
Hujan diawal Agustus malam
Di puisiku ada kamu
Entah dengan puisi atau tidak, aku tetap mencintaimu. Sampai seluruh kata-kataku tiada. Dan yang perlu kau tahu, kata-kataku tiada jeda.
Puisiku bukan soal yang terhebat. Ku buat dengan kejujuran sangat. Aku tak pernah peduli lolongan-lolongan laknat. Baiknya, kita jalani saja, bila perlu sampai usai kiamat.
Apakah kau tahu aku tak pernah menaruh hati pada puisi-puisiku? Sebab, puisiku dihati, bukan hatiku dipuisi. Tak sepantasnya ku balikkan hati ini.
Puisiku bukan soal yang terhebat. Ku buat dengan kejujuran sangat. Aku tak pernah peduli lolongan-lolongan laknat. Baiknya, kita jalani saja, bila perlu sampai usai kiamat.
Apakah kau tahu aku tak pernah menaruh hati pada puisi-puisiku? Sebab, puisiku dihati, bukan hatiku dipuisi. Tak sepantasnya ku balikkan hati ini.
Kau, cintaku
Dengan alasan cinta mereka mampu melakukan hal diluar batas kewarasan
Dengan alasan cinta mereka mampu berbaik hati tak seperti kebaikannya
Dengan alasan cinta mereka mampu berbuat buruk tak seperti keburukannya
Dengan alasan cinta mereka mencoba menjadi siapapun, membuat lawannya senang
Itu semua dengan alasan
Aku mencintaimu tanpa alasan
Aku mencintaimu dengan yang aku miliki
Meski sedikit, berharap tak jadi sakit
Aku tak pernah berusaha menjadi siapa dan
bagaimana untuk selayaknya kau cintai.
14 agustus 2018
Dengan alasan cinta mereka mampu berbaik hati tak seperti kebaikannya
Dengan alasan cinta mereka mampu berbuat buruk tak seperti keburukannya
Dengan alasan cinta mereka mencoba menjadi siapapun, membuat lawannya senang
Itu semua dengan alasan
Aku mencintaimu tanpa alasan
Aku mencintaimu dengan yang aku miliki
Meski sedikit, berharap tak jadi sakit
Aku tak pernah berusaha menjadi siapa dan
bagaimana untuk selayaknya kau cintai.
14 agustus 2018
Rindu hujan lalu
Adalah aku yang masih merindukanmu, tetap merindukanmu, dan selalu merindukanmu. Disetiap deru nafasku menjadikan alunan nada-nada yang membentuk anggota tubuhmu. Bermaksud mengusir rindu dengan segala macam hulu.
*
Biarkan kemarau selalu memayungimu. Merindukan hujan yang tak kunjung temu. Tanah ini sudah rindu akan tetes-tetesannya. Aku rindu khas bau tanah ketika bertemu air. Aku benci debu, ia hanya menjadikan aku dimatamu tabu. Menjadikan aku dinafasmu bersedu-sedu.
Hujan hanyalah sebuah harapan yang disampaikan langit kepada awan mendung dengan kedatangannya yang tak pasti. Tapi aku suka itu, aku belajar untuk bertahan meski bertahun, tambah sabar dan perlahan tumbuh subur.
*
Jikalau aku seorang kartunis maka akan kubuat pecahan matamu didalam sebidang kertas yang berwarna jingga merona. Mewarnai aku, menjadikan penuh disaat aku kosong. Bersabda kepada langit sore dengan lukisan matamu ini.
Jangan mudah percaya dengan kejujuran. Menyelamlah ke dialognya dan temukan hujan yang selalu basah ditenggorokannya. Cintailah hujan; selalu tabah dan tidak mudah dikira.
Dia meninggalkanmu agar bisa merindukanmu. Sampai akhirnya temu; membuktikan mana yang lebih tabah, hujan atau matamu.
*
Aku selalu merindukanmu, tetap merindukanmu, dan masih merindukanmu meski hujan tak kunjung temu, meski langit tak lagi sendu, meski aku tak ada lagi dimatamu.
18 Juli 2018
*
Biarkan kemarau selalu memayungimu. Merindukan hujan yang tak kunjung temu. Tanah ini sudah rindu akan tetes-tetesannya. Aku rindu khas bau tanah ketika bertemu air. Aku benci debu, ia hanya menjadikan aku dimatamu tabu. Menjadikan aku dinafasmu bersedu-sedu.
Hujan hanyalah sebuah harapan yang disampaikan langit kepada awan mendung dengan kedatangannya yang tak pasti. Tapi aku suka itu, aku belajar untuk bertahan meski bertahun, tambah sabar dan perlahan tumbuh subur.
*
Jikalau aku seorang kartunis maka akan kubuat pecahan matamu didalam sebidang kertas yang berwarna jingga merona. Mewarnai aku, menjadikan penuh disaat aku kosong. Bersabda kepada langit sore dengan lukisan matamu ini.
Jangan mudah percaya dengan kejujuran. Menyelamlah ke dialognya dan temukan hujan yang selalu basah ditenggorokannya. Cintailah hujan; selalu tabah dan tidak mudah dikira.
Dia meninggalkanmu agar bisa merindukanmu. Sampai akhirnya temu; membuktikan mana yang lebih tabah, hujan atau matamu.
*
Aku selalu merindukanmu, tetap merindukanmu, dan masih merindukanmu meski hujan tak kunjung temu, meski langit tak lagi sendu, meski aku tak ada lagi dimatamu.
18 Juli 2018
Matamu yang memancarkan warna-warni hitam putih
Disepasang bola matamu aku melihat senang, sedih, sendu, bahagia yang tak pernah ada pura-pura lagi. Semua lengkap dimatamu. Seluruh aku pun sepakat, bahwa kau kesempurnaan untukku sepaket.
Kerap ku lihat matamu, doaku terlantun diam-diam. Terbang, dibawa sang malaikat. Setelahnya, aku melihat senyummu yang melekat.
Tiba saatnya; mataku menatap matamu, begitu sebaliknya. Keheningan menjadi musik pengiring tarian kita yang diam. Kebahagiaan mengisi dikepala bagian dalam.
Jika kedua bola mata kita bertemu, aku tak pernah bisa berbohong tentang ada apa ditubuhku. Apakah tatto atau panu. Aku seperti telanjang; tak mampu menutupi
bahwa aku benar-benar mencintaimu. Sebegininya mencintaimu.
Akhirnya aku menemukanmu. Rumah; berawal masing-masing, dan tak pernah membuatku asing.
21 Agustus 2018
Kerap ku lihat matamu, doaku terlantun diam-diam. Terbang, dibawa sang malaikat. Setelahnya, aku melihat senyummu yang melekat.
Tiba saatnya; mataku menatap matamu, begitu sebaliknya. Keheningan menjadi musik pengiring tarian kita yang diam. Kebahagiaan mengisi dikepala bagian dalam.
Jika kedua bola mata kita bertemu, aku tak pernah bisa berbohong tentang ada apa ditubuhku. Apakah tatto atau panu. Aku seperti telanjang; tak mampu menutupi
bahwa aku benar-benar mencintaimu. Sebegininya mencintaimu.
Akhirnya aku menemukanmu. Rumah; berawal masing-masing, dan tak pernah membuatku asing.
21 Agustus 2018
Senin, 16 Juli 2018
Menyusun Rindu
Diberanda rumah ini kau memecahkan rindu yang telah ku rangkai rapih sedari lama, tanpa kata dan aba-aba kau datang secara tiba-tiba. Mencercah segala kekhawatiran yang pernah ada, memenggal linear jarak antara kita.
Tentunya kau tau bukan, rindu ini sudah lama ku lahirkan, ku rawat, ku beri makan, dan ku sekolahkan agar tak tertipu daya oleh hal semu di kemudian hari.
Cemas ku, jika kau tak menyadari semua itu. Kau tetap asyik memikirkan hak sepatumu agar bisa berjalan tegak diatas conblock teras rumah ku.
Oh kasih..
Apakah kau lupa jika kita memiliki ruang kedap suara yang tak akan ada siapapun mampu mendengar percakapan kita disitu.
Maka, telanjanglah. Telanjangkanlah lidahmu itu.
Tak ada siapapun mampu melihat kita, mampu melihat eloknya tubuhmu.
Maka, masuklah kasih.
Tentunya kau tau bukan, rindu ini sudah lama ku lahirkan, ku rawat, ku beri makan, dan ku sekolahkan agar tak tertipu daya oleh hal semu di kemudian hari.
Cemas ku, jika kau tak menyadari semua itu. Kau tetap asyik memikirkan hak sepatumu agar bisa berjalan tegak diatas conblock teras rumah ku.
Oh kasih..
Apakah kau lupa jika kita memiliki ruang kedap suara yang tak akan ada siapapun mampu mendengar percakapan kita disitu.
Maka, telanjanglah. Telanjangkanlah lidahmu itu.
Tak ada siapapun mampu melihat kita, mampu melihat eloknya tubuhmu.
Maka, masuklah kasih.
Apakah kau jua
Apakah kau pernah merasakan kesepian
Berada ditengah ramainya kerumunan
Tak ada fikiran yang terlisankan
Semua disenggamai jaringan
Apakah kau pernah merasakan rindu
Dengan segala kesenangan dahulu
Tertawa, riang selalu
Hampir tak sedikit pun merasa pilu
Apakah kau pernah merasakan bahagia
Langkahmu tertatih-tatih melata
Matamu meneteskan cerita lama
Buta, sok tahu tentang aksara
Apakah kau pernah merasakan hal yang indah
Menghirup udara fajar merekah
Melihat warna semesta yang gundah
Melangkah di bumi yang mulai mendesah
Apakah kau pernah merasakan takut
Sendiri diufuk kabut
Hanya mendengar suara siut
Kesana-kemari kalang kabut
Apakah kau pernah merasakan sadar
Bersyukur tumbuh besar
Alpa dalam perjalanan yang sebentar
Membuat keyakinan lama terkapar
Apakah kau pernah merasakan sesal
Atas emosi yang sekejap berbual
Emosi sekejap; warasnya baal
Rasanya tai, terucap kebabal
Apakah kau pernah merasakan dingin
Rasanya ingin membakar seluruh badan-biar mati tertiup angin
Apakah kau pernah merasakan panas
Bergejolak dingin yang buas
Apakah kau pernah merasakan rindu ibu
Sarapan pagi cemoohan menyembilu
Tak cukup rasanya diceritakan dalam buku
Seketika tanganku kaku, lidahku kelu
Bila kau sama merasakannya, ku rasa kita tak jauh berbeda
Berada ditengah ramainya kerumunan
Tak ada fikiran yang terlisankan
Semua disenggamai jaringan
Apakah kau pernah merasakan rindu
Dengan segala kesenangan dahulu
Tertawa, riang selalu
Hampir tak sedikit pun merasa pilu
Apakah kau pernah merasakan bahagia
Langkahmu tertatih-tatih melata
Matamu meneteskan cerita lama
Buta, sok tahu tentang aksara
Apakah kau pernah merasakan hal yang indah
Menghirup udara fajar merekah
Melihat warna semesta yang gundah
Melangkah di bumi yang mulai mendesah
Apakah kau pernah merasakan takut
Sendiri diufuk kabut
Hanya mendengar suara siut
Kesana-kemari kalang kabut
Apakah kau pernah merasakan sadar
Bersyukur tumbuh besar
Alpa dalam perjalanan yang sebentar
Membuat keyakinan lama terkapar
Apakah kau pernah merasakan sesal
Atas emosi yang sekejap berbual
Emosi sekejap; warasnya baal
Rasanya tai, terucap kebabal
Apakah kau pernah merasakan dingin
Rasanya ingin membakar seluruh badan-biar mati tertiup angin
Apakah kau pernah merasakan panas
Bergejolak dingin yang buas
Apakah kau pernah merasakan rindu ibu
Sarapan pagi cemoohan menyembilu
Tak cukup rasanya diceritakan dalam buku
Seketika tanganku kaku, lidahku kelu
Bila kau sama merasakannya, ku rasa kita tak jauh berbeda
Bunyi yang sembunyi
Suatu saat kelak kesalahanku tak kan lagi kau ingat. Seperti anak balita yang tak tahu bagaimana Ibu menahan rasa sakit robek dari sebagian tubuhnya, menekan seluruh nafsu kepusat kemaluannya; anak balita itu tertawa riang, berangkang, dan celantang meraih botol susu yang diisi pembasmi hama kehidupan oleh Ibunya.
Aku lahir dari amarah Ibu yang dibualkan kepada cermin, ke dirinya sendiri. Senyum Ibu yang dipalsukan ke setiap insan yang dijumpai. Kau lahir dari ucapanku yang terdengar dalam kesepian. Seperti nyala jangkrik ditengah persawahan. Gelap.
Kau ditemukan setelah lariku setengah dekade dalam kesunyian. Kemudian dikembangbiakan oleh genggaman tangan kita yang perlahan mulai erat, dan kemudian memudar karena raga menua.
Bertahan bertahun-tahun dalam sepi sangat mudah. Perlu hektaran ladang sandiwara yang siap kerap kali akan kau garap.
Kini ku menemui mu, seorang pengusaha yang membeli hektaran ladang sandiwara ku. Tanyaku, apa rencana mu disini? Apa yang mau kau bangun disini? Apa yang akan kita bangun disini?
Jika kau hanya ingin menabung disini, memiliki saham ladang tuk kemudian kau jual lagi nanti. Baiknya tak ku jual.
Tak kan ku jual.
Kesaksianku saat final pildun dan bertepatan saat bertambahnya usiaku
Kamis, 28 Juni 2018
Mencintaimu
Aku mencintaimu dengan sederhana
Memperhatikanmu dengan huruf-hurufku,
merindukanmu dengan tanda bacaku,
mendoakanmu dengan kedua tanganku
Aku mencintaimu dengan sederhana
Menjadikan setiap sajakku menjelma menjadi angin,
yang meniupkan segala harapanku ke jiwamu
Aku mencintaimu dengan sederhana
Sesederhana kata-kataku
Hadir
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Di ombang-ambing, dilanda kepanikan
Apakah hanya aku yang merasakan
Sementara kau asyik menyaksikan
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Selayaknya bulan yang terlihat dalam kegelapan
Tak mampu ditutupi sinarnya meski perlahan
Karena ia sadar itulah keindahan
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Aku masih meniti
Kau sudah ahli
Di ombang-ambing, dilanda kepanikan
Apakah hanya aku yang merasakan
Sementara kau asyik menyaksikan
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Selayaknya bulan yang terlihat dalam kegelapan
Tak mampu ditutupi sinarnya meski perlahan
Karena ia sadar itulah keindahan
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Perasaan ini mulai hadir (lagi)
Aku masih meniti
Kau sudah ahli
Jumat, 05 Mei 2017
Hobi hanyalah ke-aneh-an
Hobi hanyalah sebuah
alasan untuk melakukan suatu hal yang aneh. Coba tanyakan kepada teman,
saudara, atau siapa saja yang kalian jumpai. Apa hobi mereka? Adakah kalian
temui hobi yang aneh. Apa mungkin ada yang tidak mempunyai hobi.
Ada manusia yang
hobinya mengoleksi prangko, melamun, mengupil, dan masih banyak lagi yang
lainnya. Apakah itu bukan sesuatu yang aneh. Tentu aneh bagi kita yang
mendengar dan melihat. Tetapi tidak aneh bagi mereka yang melakukannya karena
mereka melalukannya atas dasar rasa yang merdeka.
Seseorang yang memiliki
hobi tentu punya kaitan dan batasan. Dimana hobi yang mereka lakukan berkaitan
dan terbatas atas kebebasan orang lain. Sebagai makhluk sosial tak lepas dari
kaitan manusia dilingkungan. Diperlukannya toleransi dan tenggang hati terhadap
kelakuan manusia atas dasar hobi.
Semakin besar rasa
kecintaan manusia terhadap hobinya, semakin nampak kebodohan dari hobi yang
dilakukan. Sebuah kecintaan terhadap suatu hobi dibutuhkan rasa pengorbanan
serta penderitaan. Jika hal tersebut tak dimiliki bersiaplah sakit hati atas
hobi yang kalian miliki. Sakit hati karena tak tercapainya angan dan cita-cita
yang diharapkan dari sebuah hobi.
Manusia punya rasa. Hobi memerlukan rasa. Jika rasa kemanusiaan belum sempurna, mustahil sampai pada puncak hobi yang dimiliki.
Manusia memanusiakan manusia
Ada kisah jualan manusiaYang dilakukan dibanyak negaraBuruh migran lah disebutnyaSiang malam mereka bekerjaBanting tulang dinegri sebrang sanaTempat mereka menggantung nyawaTuk menghidupi keluarganya(Marjinal – Buruh Migran)
Buruh adalah manusia
yang bekerja. Mengandalkan dari tenaga dan keahliannya. Sehingga mendapatkan
gaji dari pemilik pabrik atau pemberi pekerjaan sesuai dengan kesepakatan dan
perundang-undangan.
Tak ada istilah majikan
dan tuan karena buruh bukan budak. Buruh migran yang dipukul, disiksa, dan
diperkosa sehingga mati konyol membutuhkan rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan
dalam bekerja dan perlakuan (dari seorang pemberi pekerjaan).
Negara Indonesia telah
merdeka sejak tahun 1945, tetapi tidak dengan warganya. Dimana para buruh/warga
yang bekerja tidak merasakan kemerdekaan. Buruh tidak mendapatkan sifat
kemanusiaan dan keadilan, sehingga mustahil terciptanya persatuan. Bukti kuat
masih banyak tuntutan dari buruh yang belum terealisasikan. Hal ini yang
menyebabkan banyak aksi demo para buruh berujung kericuhan.
Buruh migran tak seditkit
yang teraniaya, bahkan pulang hanya tinggal nama. Mereka hanya pasrah korbankan
jiwa karena tak ada sanak saudara dan kepastian nasibnya. Bekerja siang malam dan
tinggal di negri yang antah berantah banting tulang ‘tuk keluarganya. Buruh bukan
hanya menuntut soal pendapatan dan tunjangan hidup, tetapi kemaslahatan hidup. Dimana
dibutuhkannya sifat kemanusiaan dari manusia kepada sesama manusia (buruh).
Senin, 24 April 2017
Penyakit instan
Siapa yang tak mau
kuliah? Setiap orang yang sudah lulus sekolah menengah atas pasti ingin melanjutkan
pendidikannya. Hanya ada beberapa faktor yang menjadi hambatan. Biaya kuliah di
Indonesia memang tidak murah. Ditambah dengan pendapatan ekonomi masyarakat
yang tidak besar.
Kebetulan saya
kuliah di Universitas Pamulang (UNPAM). Tujuan melanjutkan sekolah tinggi untuk bertambahnya ilmu. Disamping itu juga bertambahnya teman dan
pengalaman. Tetapi banyak pemikiran para mahasiswa hanya
ingin mendapatkan sebuah gelar. Entah untuk pekerjaan, status sosial, atau ajang
pamer. Bahkan hanya untuk penulisan nama disebuah undangan pernikahan. Pemikiran
yang seperti ini harus dihancurkan. Gelar memang penting. Tentu saja dengan
gelar yang didapat harus sesuai dengan kwalitas ilmu yang dimiliki. Contoh saja gelar Ustaz, yang menguasai ilmu Agama.
Kebanyakan para
mahasiswa hadir ke kelas untuk mencari absen. Bukti kuat pada saat pelajaran
berlangsung mereka asik berbincang, selfie,
dan bermain game di smartphone. Lantas
apa ilmu yang didapat? Sungguh sebuah kegiatan yang sia-sia. Seharusnya kita
sadar dan syukur bisa kuliah. Banyak orang yang mempuni otak dan tenaganya tapi
tidak punya biaya untuk kuliah. Lebih baik kesempatan kuliah kalian diberikan
kepada mereka.
Hasil tidak akan
mengkhinati perjuangan dan pengorbanan. Jika ingin berkehidupan yang layak,
maka dimasa sekarang ini harus sungguh belajar. Tentu diimbangi dengan segala
macam aktivitas yang lain. Sebab hidup bukan sekarang. Hidup adalah bagaiamana
kita berbuat dari sekarang.
Hobiku tidak punya hobi
Setiap orang pasti
melakukan rutinitas. Tetapi apakah setiap orang punya hobi? Saya adalah salah
satu orang yang tidak punya hobi. Karena hobi tidak banyak. Seseorang yang
punya hobi pasti hanya satu atau dua hobi. Paling banyak pun lima hobi. Itu pun
ada salah satu hobi yang tidak sering dilakukan.
Segala sesuatu yang
saya jalani adalah sebuah hobi. Baik aktivitas maupun rutinitas. Ini adalah
cara agar tidak mudah bosan. Setiap orang pasti punya rasa bosan. Saya pun
punya rasa bosan. Tapi kerap kali rasa bosan itu datang, saya selalu menekankan
pikiran saya bahwa “ini hobi gua, gua gak boleh bosan”.
Kenapa harus ada
hobi. Apakah hobi selalu diutamakan dari pada aktivitas yang lain? Nyatanya tidak.
Hobi tetaplah hobi. Apakah sebuah rutinitas menjadikan seseorang itu hobi? Nyatanya
tidak. Apakah sebuah pekerjaan adalah hobi? Nyatanya tidak. Banyak orang yang
membenci pekerjaannya. Hanya saja butuh uang untuk hidup dan sulit untuk
mencari pekerjaan lain. Jika sekolah adalah rutinitas siswa yang dijadikan
hobi, kenapa masih banyak siswa sekolah yang bolos?
Entah hobi itu ada
atau tidak. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaksimalkan segala hal yang
kita jalani, sesuai kadar kemampuan kita. Lakukan segala hal yang menghasilkan
keuntungan. Bukan hanya materi, tetapi segala aspek hidup. Selalu tegur dan
ingatkan pada teman dan saudara yang ada dijalan kerugian. Agar terciptanya keamanan,
kenyamanan, dan kerukunan.
Fenomena Ibu-ibu mengendarai sepeda motor
Sepeda motor kini
mudah didapatkan. Dengan uang muka dan kredit yang murah. Tak heran pada satu
rumah warga terdapat lebih dari satu sepeda motor. Hal ini juga menyebabkan
para Ibu-ibu dan anak-anak bisa mengendarai sepeda motor. Hanya bisa, tidak
pandai.
Saya pengendara sepeda
motor. Dalam mengendarai sepeda motor bukan hanya dibutuhkan kelihaian, tapi
juga kewaspadaan. Tingkat kewaspadaan seorang pengendara motor akan drastis naik
jika ada Ibu-ibu didepannya. Fokus pengendara motor dibuat hilang oleh Ibu-ibu.
Contoh saja Ibu-ibu yang ingin belok kiri tetapi menyalakan sen kanan. Ibu-ibu yang
menyalakan sen kiri tetapi ada dikanan jalan. Ibu-ibu yang menyalakan sen kanan
tetapi ada dikiri jalan. Dan masih banyak lagi kelakuan Ibu-ibu dijalanan.
Sebetulnya apa
maksud dari kelakuan Ibu-ibu tersebut. Apa mungkin itu adalah sebagai tingkat
kewaspadaan. Dengan berada disebelah kiri jalan menjadikan aman belok kanan. Ternyata
tidak. Hal itu terjadi akibat kurangnya pelatihan dan pengalaman yang minim.
Langganan:
Postingan (Atom)
